Monday, August 07, 2006

Sweet Dream

There was a long time ago since I had a sweet dream.
Yesterday I got the new one. And the dream was so sweet.
The one of that I won't to forget it.

But that just a sweet dream...

Monday, June 26, 2006

The Flow

Mengalir begitu aja. Tidak ikut arus, tidak pula karena kekuatan sendiri. Satu2nya keyakinan adalah : semua sudah diatur.

Memang kita harus ada usaha. Usaha yang serius memang bisa menambah nilai akademis kehidupan. Tapi keyakinan butuh suatu "kepasrahan" di luar usaha.
----

Hari ini gue mulai di kantor baru. Secara status adalah Graphic Designer - demikian kata lowongan waktu itu. Hasil pembicaraan dengan semua pihak di kantor ini, gue diharapkan bisa mengerjakan hal lain selain design. Hal2 yang berbau IT, networking, web, dsj.

Beberapa taon lalu emang gue bisa dibilang bisa... Karena pertama kali gue kerja emang bidangnya itu. Walopun kaga pernah sampe ke programming.

Bagusnya di tempat baru ini, gak terlalu besar & orangnya juga gak banyak. Dan sistem udah berjalan bagus. Paling gue tinggal maintainnya aja. Semoga gak menyulitkan dan kalo bisa hal2 lainnnya menyenangkan.
----

Hari pertama mengalir begitu aja. "Aja" dalam arti kalo ditanya, maka jawabnya... "Yah begitulah.."

Yang pasti sekarang ini gue di lingkungan kerja yang beda lagi dari sebelum-sebelumnya.

Tuesday, June 20, 2006

Piala Dunia : Sebuah Proses

Selama musim Piala Dunia ini, kaga heran kalo di kostan gue, para bola mania merasa wajib nonton semua pertandingan. Ditambah nontonnya rame2, suasana jadi seru banget menurut mereka.

Gue gak terlalu suka nonton bola. Kalo baca liputan or kisah2 di balik pertandingan itu, masih sukalah.

Sayangnya, umumnya anak2 kostan kalo nonton bola itu buat tarohan. Jelas banget teriak2 gembira kalo tim yg dipasang tarohan bisa nyetak gol. Dan umpatan sengit kalo gawangnya kebobolan or gak bisa nyetak gol.

Kesimpulan gue gini. Mereka teriak2 semanggat untuk kepentingan tarohan mereka.!!

Kasihan tuh pemain, walo mereka tau sih dimaki2.

Piala Dunia merupakan ajang bisnis besar bagi para bandar2 tarohan bola. Dalam 1 game bisa terjadi transaksi miliar dollar diseluruh dunia. Pelaku tarohan ini mulai dari kenek bis yang pasangnya bisa dari 5000an, sampe mafia narkoba yang mungkin punya pasangan minimal 5 jutaan. Dan gak sedikit ada kalangan high society yang mempertaruhkan mobil, rumah dan bakan depositonya.

Siapa yang untung, siapa yang seneng.. gue gak tau…

Di sisi lain, dengan menutup sebelah mata, pemain dan pelatih juga tau kalo mereka tuh jadi objek bisnis tanpa dapet komisi dari usaha mereka. Selain mungkin jika ada lobi2 tingkat tinggi antara tim dengan sponsor atau dengan bos2 penyandang dana.

Tapi mereka (mungkin) nggak akan konsen ke situ. Tiap tim taunya hanya bagaimana bisa menang. Dan kalo pun kalah, nggak kalah malu2in. Soalnya mereka tau, mereka bisa ada di Piala Dunia karena : emang mereka jago, mereka udah latihan keras, mereka musti melewati banyak gemblengan berat, dan walo pun ada unsur duitnya..itu adalah duit sponsor yang percaya kalo mereka mampu.

Jadi intinya bisa lolos ke Piala Dunia bukan urusan pasport doang, tapi proses yang emang high quality banget. Proses yang kadang butuh tangisan dan pengorbanan lain. Proses yang gak layak dicaci-maki gitu aja sama penonton kalo mereka gagal memenuhi impian para petaroh bola.

Sepak bola adalah satu kesatuan. Mulai dari kesatuan fisik sendiri dan mental sampe kesatuan tim, yg musti saling dukung. Tapi penonton biasanya hanya melihat apakah pertandingan itu menang atau kalah bagi dia… suatu hal yang sangat personal.

Banyak cerita yang udah nunjukin tentang bagaimana proses itu berlangsung. Seperti misalnya luapan kegembiran dengan tangisan bahagia pelatih Costa Rica (kalo gak salah), ketika timnya dipastikan lolos ke babak selanjutnya. Seperti berita di media, itu adalah suatu impiannya untuk bisa mambawa tim nya bertanding lebih jauh di Piala Dunia kali ini.

Juga bagaimana tentang perjuangan tim nasional Togo yang berhasil membuahkan gol ketika melawan tim yang lebih pengalaman dari mereka. Walopun selanjutnya mungkin mereka segera dilupakan karena (mungkin) tidak lolos ke babak selanjutnya.

Dan gue yakin akan banyak cerita2 lain yang mengharu biru di putaran Piala Dunia ini. Cerita2 yang nggak pernah jadi tarohan bola mania. Tapi itu adalah cerita2 di balik layar yang sebenarnya merupakan modal tim itu bisa ada di Piala Dunia dan kemudian “hanya” menjadi objek bisnis orang2 tertentu (yang jumlahnya melebih istilah ‘tertentu’ ini).

Thursday, May 11, 2006

Mimpi dan Khayal

Kadang harapan itu hanyalah tinggal kenangan
yang kembali hanya sekejab dalam mimpi dan khayal.
Tapi cinta harus tetap dipertahankan
agar dalam hidup ini kita bisa tetap bermimpi dan berkhayal.

Kita memang tidak sendiri
walaupun untuk berdua, itu sulit.
Tapi mereka selalu ada di sini
bersama kita untuk tetap bermimpi dan berkhayal.
Karena cinta itu tetap ada.

Tuesday, April 25, 2006

Gundah

Dalam ceria terkadang bisa melupakan kegundahan.
Tapi ketika sepi merasuk, gundah kembali menunjukan jati dirinya.
Entah apa yang harus digundahkan.
Semuanya hanya tinggal dinyatakan untuk mendapat kepastian.
Tak tahu apa yang menghambat.
Apakah hati yang kecut, atau trauma yang dikambinghitamkan?
Atau malah menyalahkan takdir?
-----
Semalam di Roti Bakar Edi

Monday, April 24, 2006

Slow Mo...

Apakah hati ini terlalu kuatir?
atau...
Apakah pikiran ini terlalu lambat?

Terkadang sesuatu terasa menenangkan,
sehingga tak merasa kuatir.
Terkadang susuatu terasa begitu yakin,
sehingga tak perlu cepat.

Tapi nyatanya,
diri ini sering merasa
The man in wrong place & wrong situation
with the wrong person.

Seorang teman pernah berkata
Tidak ada seorang pun yang benar-benar berada dalam
situasi yang ideal.
Tapi keyakinan harus tetap berjalan,
bersama dengan orang yang kita yakini.
Dengan segenap hati dan pikiran,
bukan hanya dengan kenyamanan dan
kenikmatan semata.

Saturday, April 22, 2006

Hari Kartini

Emm... kemaren [21.04] kembali Indonesia ngerayaain Hari Kartini. Tepatnya sih memperingati hari lahirnya Ibu Kita Kartini... Itu namanya emang pake 'Kita' ya.? Keren juga ya.. jaman dulu udah ada nama Kita.. mungkin nama lengkapnya Kitana.. huehehehe...

Pas gue lewat depan sebuah sekolah SD Negri, pas lagi pawai anak2 SD yang pake baju daerah.. Macem2 dan warna-warni. Lucu sih anaknya. Banyak yang jalannya pada kagok. Maklumlah mereka kan pake baju itu setaon sekali.

Tapi lantas gue kepikir. Apa hubungannya Kartini sama baju adat nusantara ya? Perasaan Kartini itu memperjuangkan hak asasi kaum wanita dan pemerataan pendidikan. Bukan memperjuangkan pakaian adat nusantara kan.? Emm.. entahlah gimana bisa begitu perayaannya. Gue males cari silsilahnya. Mungkin ada yang tau.?

Trus yang gue liat sepertinya makin tahun makin ada perubahan. Kalo diliat dari anak2 perempuan, yang gue liat kemaren... Wow man.. make-upnya kaya pake alat yang komplit tuh. Udah gak kalah sama artis yang mo show.!! Dan stylenya juga yang terkini. Gak ada deh yang gue liat medok2. Hampir semuanya trendy... Kayanya ibu2 mereka yang niat make-up-in.

Sementara yang anak2 cowo sih biasa2 aja. Dari dulu cuma ada make-up-an kumis, jambang or jenggot.

Tapi waktu semakin banyak gue lait mereka lewat, gue baru kepikir lagi. Halah...kenapa ya tuh anak2 cowo di make-up peke kumis dan kawan2nya.??

Kenapa ya musti dibentuk sebagai sosok pria dewasa? Emang kalo pake adat gitu musti jadi orang dewasa? Lah anak2 cowo di daerah masing2 juga tetep pake baju adat atau baju daerahnya sejak masih kecil. Tapi kenapa perayaan Kartini mereka musti didandan kaya pria dewasa. Menurut gue tanpa kumis, dkk juga tetep menunjukan budaya nusantara kok.

Dan gue juga males cari silsilahnya... dan biarlah demikian. Mungkin semua itu untuk membuat anak2 itu tetep lucu.

Saturday, April 01, 2006

Secercah Cahaya

Mencoba melangkah lebih jauh,
menembus kelamnya hati.
Beharap temukan secercah cahaya,
cahaya kasih yang dirindukan hati.
-----
semalam...
dibawah redupnya penerangan jalan.

Friday, March 31, 2006

2 Hati

Ada baiknya sesuatu dilaksanakan sesuai calendering yang tepat.
Tapi jika bicara hati... timming berbeda dengan calendering.
Sulit dijadwalkan...
hanya keyakinan dan harapan yang bisa membuat 2 hati ada pada waktu yang sama.

Bandung on Days

Bandung…. Hmm, baru kemaren [24.03.06] gue ke sono pas hari biasa, bukan weekend or hari libur.

Menyenangkan… apalagi kemaren lagi mendung, tambah asik tuh suasananya. Sambil jalan lewat daerah2 sekitar Cihamplas, jalan2nya rame banget… rame sama pohon… huehehehe… Ditambah lagi masih banyaknya rumah2 tua yang masih terawat. Beda banget sama rumah2 tua di Jakarta yang cenderung males untuk ditinggalin. Tapi gue jamin, rumah2 tua di Bandung justru mengundang benget.

Bandung sekarang emang udah makin padet. Jalanan juga udah penuh sama mobil. Tapi kayanya tetep layak untuk dinikmati sama pejalan kaki or pesepeda. Menurut gue, padet tapi gak sumpek. Ada polusi asap kendaraan tapi gak sampe bikin ngebul kaya di Jakarta. Di mall aja masih ada orang yang dateng pake sepeda dan parkir di parkiran motor. Gue gak tau tuh apa kena jam parkir juga.

Emm…Bandung… keinginan yang belon tercapai, untuk pergi sendiri dan ngoprek2 Badung sendirian juga…

Wednesday, January 25, 2006

Photobucket

This is a test post from Photobucket.com