Monday, October 06, 2008
Abis Libur Lebaran
Thursday, September 04, 2008
kopdar Jejak Kaki
Setelah ikut ngobrol-ngobrol di milis dan baca-baca di multiply nya, gue berharap someday bisa ikut mereka untuk mulai menjejakkan kaki di daerah-daerah wisata. Soal budget, memang masih dikontrol owner, tapi bagusnya emang owernya berorientasi cari budget semurah mungkin untuk satu paket trip. Walo pun arti murah ya masih relatif. Tapi jelas beda dengan harga tour komersil. Plus nya lagi, perserta trip diorientasikan untuk terus berteman dan jadi komunitas yang terus eksis. Nggak cuma ikut trip, pulang, trus goodbye.... Nah, gak lama sejak JK tampil di Kompas, milis JK pun kebanjiran member. Dan banyak juga yang request untuk kopdar sebelum ikut trip yang official. Akhirnya disepakati untuk kopdar tanggal 17 Agustus 2008. Selain untuk ketemu member baru, juga memperingati 17-an ala kadarnya.

Ternyata some new members ini asik-asik orangnya. Walo masih baru kenal, tapi kita udah tancap gas aja dalam komunikasi, udah kaya kenal lama. Yeahh good step lah... Dan kopdar ini emang “dikontrol” juga, jadi kita mah tinggal terima bersih aja dan yang susah cuma beberapa orang aja... hahahaha... tapi mereka sukarela banget kok.
Kita kopdar-an di Sukabumi, di villa baru 1/2 jadi salah satu new member. Villa cuma jadi base camp dan tempat maen game 17-an. Jadi walo pun ala kadar nya.. ya no problem lah... Sebelumnya kita cross country dulu, lewat rumah penduduk, sawah & kebun teh. Lumayan jauh buat yang gak biasa, terbukti ada yang tepar... huehehehe.. dan terpaksa melanjutkan trek sampe ke villa naek ojek... untuk gak ujan dan gak becek... padahal jarak ke villa sih tinggal 5 min jalan kaki lagi.
Sepanjang hari itu everything was fine dan asik.
Kopdar berikutnya digelar tanggal 31 Agustus kemaren, di food court Plasa Semanggi. Kebetulan JK abis trip dari Bangka Belitung - yang katanya yahud punya... Jadi sekalian kumpul-kumpul untuk tukar foto dan lepas kangen... (hare gene pake lepas kangen...???).
Ternyata emang tabiat member JK hampir sama yee.. kenal gak kenal, selama lo suka jalan murah meriah... hayuuukkkk cela aja... huehehehe...

Ya pokoknya kalo bicara friendship... JK oke lah. Yang jadi member aja sangat variatif... sampe yang udah oma-opa juga ada... dan tetep jalan... kaga pake deh tour yang manja-manja. Tapi menurut info, JK juga ada kok trip “high-end”, kalo istilah gadgets. Yang emang orientasinya kenyamanan, tapi tetep dengan budget yang diusahakan jauh lebih murah dari tour & travel.
Yang tetep jadi poin “jual” nya adalah friendship... so, walo pun memang terkesan perlu keluar dana cukup gede, tapi dijamin friendship nya akan lekang, otomatis kenangan trip juga lebih berkesan.
Begitu cerita dari member lain yang udah pernah ikut trip JK.
Gue...?? sampe saat ini blon... hehehehe...
Monday, June 16, 2008
Perjuangan
Perjuangan itu sendiri tidaklah selalu karena sebuah pertikaian. Untuk memilih dan menentukan, itu juga butuh perjuangan. Karena harus dipikirkan dan dipertimbangkan, kita bukan sekedar memungut pilihan itu – atau bahkan untuk sekedar memungut sesuatu, seringkali butuh perjuangan kan?
Entah aku ada dimana? Entah aku sudah cukup bejuang? Aku ingin berhenti berjuang, paling tidak untuk satu hal ini. Karena akan banyak lagi hal yang harus kuperjuangkan di depan, tidak untuk satu hal itu saja.
Seorang teman tiba-tiba bertanya, “Bagaimana sekarang? Masih memperjuangkan hal yang sama?”
“Entahlah…”, kataku tak bersemangat.
Apakah tak bersemangat itu merupakan tanda aku harus berhenti berjuang? Setelah sekian lama banyak yang ku “korban” kan demi sebuah perjuangan ini? Hanya “entahlah” yang masih bisa kujawab.
Aku tahu, ada hal sepertinya masih kurang kuperjuangkan. Aku hanya mengharapkan mujizat kemenangan. Tapi tidak selalu kan mujizat itu kan menghampiri kita?
Sekarang aku hanya tidak tahu… dan memang TIDAK TAHU.
Kata orang, perjuangkan ku akan mubazir, jika kuakhir sekarang. Kalah sebelum berperang, demikian istilah mereka. Tapi… hey.. bukankan aku sudah berjuang? Bukankah wajar jika ada menang dan ada kalah. Dan mungkin kali ini kalah adalah milikku.
“Iya..!! Tapi kamu belum pernah terjun di medan perangnya..!!” hardik mereka.
“Lantas..?” tanyaku.
“Kamu masih sebatas menyusun strategi dan rencana. Itu yang kamu namakan berjuang?”
“Entahlah…”, kataku tak bersemangat.
Saat ini yang ku butuhkan hanyalah semangat. Semangat yang bisa membuatku tetap maju berjuangan. Mungkin memperjuangkan hal yang sama, tapi dengan lawan yang berbeda. Karena memang sepertinya perjuangan ku adalah perjuangan yang tak pernah selesai.
Entahlah…
Yang pasti sudah banyak perjuangan lain yang menanti. Entah aku siap atau tidak, sepertinya semua perjuangan itu harus ku jalani bersama. Dan untuk semuanya, aku berharap menang. Atau paling tidak aku bisa mengakhiri perjuangan itu dengan damai.
Monday, June 02, 2008
A Trip for Life
Perjalanan baru-baru ini, merupakan perjalanan yang WAH banget buat gue. Seumur-umur gak kebayang bakal bisa ikut trip ini. Bahkan sampai 2 minggu menjelang berangkat, gue masih menaruh option GAGAL dalam list keberangkatan gue.
But overall, it’s about God’s will. And I believe that. Semua memang udah maunya Tuhan kalo gue bisa terlibat dalam trip ini. And I thanks for that, a deeply thanks to God.
Ke luar negeri jelas jadi impian banyak orang, apalagi orang macam gue yang suka travel – walopun melakukan travel buat gue masih dalam itungan jari yang ada di badan. Gue suka travel, cuma karena masalah duit yang gak kunjung mendukung, maka pengalaman gue pun masih dalam itungan jari.
Tapi boleh percaya or nggak, akhirnya travel pertama gue ke luar negri justru ke kota yang taon 2007 sempat tercatat sebagai kota termahal di Asia. [1], [2]
Korea Selatan memang salah satu negara yang rapi dan modern. Seoul juga bisa dibilang – dan pasti nya sih iya – sebegai kota penting dunia. Dan kenyataannya, udah gue singgahi juga dalam hidup gue ini.
Trip kali ini memang dalam rangka spiritual trip, jadi bukan jalan-jalan semata. Dan bagaimana gue bisa ke Korea, kronologinya mungkin seperti ini :
1. Gereja gue – Methodist Imanuel – (taon berapa… gue lupa, mungkin 2005 or awal 2006) mulai kerjasama dengan gereja Methodist Chuncheon Korea. Dan kita jadi sister chuch
2. Taon 2006, mission team pemuda dari Methodist Chuncheon, mulai “wajib” mampir ke gereja gue. NOTE : udah sejak lama, gereja-gereja di Korea mengadakan mission trip, dari sekolah minggu sampai lansia.
3. Kunjungan ke dua, taon 2007, pemuda Methodist Indonesia, ditantang untuk mengunjungi gereja-gereja di Korea, dan sebagian biaya akan ditanggung mereka. Kita cuma perlu bayar 500USD. Sontak waktu itu, banyak yang berminat. Pikir mereka, ini Korea dan “cuma” 500USD pula.
Selanjutnya proses mulai berjalan. Peserta yang udah komit berangkat, harus melakukan banyak persiapan. Mulai dari latihan sampai mission training. Semua itu bekal untuk kita mendapatkan hal spiritual yang lebih besar lagi.
Dan memang ini bukan vacation trip, ini adalah mission trip.
Aneh memang kalo kita cuma mengambil kata mission trip dari premis umum. Kalo ke Korea Selatan, apanya yang mau di-misi-in.? Secara “kemampuan”, misi agama mereka udah jauh diatas rata-rata. Gereja terbesar di dunia aja, adanya di Kor-Sel [3], demikian juga gereja Methodist terbesar di dunia ada di sana. Lantas misi apa lagi mau orang Indo kerjakan di sana?
Premis umum berkata demikian.
Tapi kata misi itu sendiri, bagi gue, bukan melulu melakukan hal yang dikatakan premis umum, yaitu melakukan kegiatan/penyebaran/memberitaan agama – dalam hal ini agama Kristen – ditempat yang belum tersentuh atau sedikit Kekristenannya.
Pada kenyataannya gue memang lagi mengemban suatu misi. Misi untuk bisa melakukan sesuatu buat gereja gue, setelah gue mendapatkan banyak hal spiritual dari mission trip ini. Hmm… tapi kalo sekedar nama memang udah telat sih, tapi kayanya lebih tepat kalo disebut SPIRITUAL TRIP. Karena memang itu yang terjadi dan itu yang kita dapatkan.
Seperti diawal gue bilang, ini adalah suatu trip yang WAH. Gue bisa jamin, kalo elo melakukan perjalan wisata, mungkin elo merasa itu keren banget. Tapi ketika daerah wisata elo ternyata suatu saat udah usang dan basi, bisa jadi pengalaman elo itu jadi gak keren lagi.
Tapi ketika lo melakukan perjalan seperti gue ini, maka pengalamannya tidak kenal waktu. Spiritual Trip, kalo emang ternyata “kena” di hati elo, bakal jadi cerita yang luar biasa seumur hidup elo. Dan gak menutup kemungkinan kisah elo akan tercatat dalam sejarah. Walo pun itu sekedar sejarah keluarga. Some kind, become a legend.
Yah gue gak bilang gue maniak mau jadi legenda. Tapi satu yang pasti, kalo itu terjadi, sesuatu yang besar pasti sudah terjadi di lingkungan elo, karena elo sudah jadi berkat buat mereka.
===
NEXT semoga gue punya cukup waktu sengggang untuk bisa nulis cerita-cerita lain selama gue di Korea.
Miss you guys… friends, Mr.Kim and Omma…
Monday, October 08, 2007
2 Months Already
It’s already 2 months ago, since Saat Itu.
It’s okey, I wrote it just to remind me, and to remind that its still like before.
Hope is still facing my mind. But worry is running beside me.
I don’t want think any thing worried, but the condition still in the same format.
These lines just for make me sure, that I’m still in the same way.
Friday, September 28, 2007
Hobi Kita
Kebayang gak kalo kita tinggal di daerah kecil, dan apalagi agak terpencil. Kira-kira hobi kita apa ya?
Ada kemungkinan penduduk daerah kecil itu punya hobi yang sama. Umumnya hobi itu ditunjang sama peralatan dan fasilitas. Iya lah, kalo daerah kecil, apalagi terpencil, agak sulit menemukan orang yang hobinya fotografi atau modifikasi mobil. Dapetin barangnya aja susah, apalagi di-hobi-in...
Penduduk daerah kecil mungkin punya hobi yang sama, main catur, mancing, berburu atau paling kompleks mungkin ngoprek peralatan radio untuk bikin siaran lokal.
Masalahnya apakah emang hobi itu muncul karena fasilitas or karena nurani? Sepertinya mungkin karena fasilitas. Kayanya gak mungkin seorang
remaja daerah terpincil terpikir untuk hobi main PSP, atau seorang pemuda terpikir punya hobi denger mp3 via Ipod or koleksi film-film box office, atau seorang ibu rumah tangga punya hobi hunting tas LV terbaru, atau seorang bapak punya hobi main soft gun.
Kesimpulannya, kadang hobi bisa jadi acuan perkembangan inteligen dan budaya. Dan semua itu bisa ada kalo fasilitasnya ada. Dan fasilitas bisa ada, kalo pemerataan pembangunan tersebar merata.
Mungkin orang-orang daerah terpencil akan amaze, bukan sekedar sama fasilitas yang ada, tapi mereka pun akan amaze, bahwa hobi itu ternyata banyak jenisnya. Termasuk bahwa ng-blog juga menjadi sebuah hobi.
Wednesday, September 26, 2007
Kalo Hujan, Jakarta Macet... Ya iya lah...
Hari Senin kemaren [24.09.07] mungkin jadi hari yang semakin mengukuhkan gue untuk tidak/belon mau punya kendaraan pribadi. Entah itu motor or mobil. Dan kondisi ini berlaku selama gue masih tinggal di Jakarta.
Gimana kaga..?!! Orang Jakarta kayanya emang norak kali ye... Hujan dikit aja langsung macetnya bejibun... Dan ini udah semacam tradisi yang gue gak tau kenapa.
Senin kemaren emang hujan, makanya gue juga ikutan pulang agak malem, abis hujan reda. Dari kantor gue, jalanan masih termasuk lancar. Rute gue lewat Pondok Indah, Radio Dalam, Pakubuwono, Mustopo, Senayan, TVRI dan kemudian menuju Gatot Subroto terus berakhir di S.Parman.
Nah, masalah sepanjang jalan sampe TVRI, lalu lintas masih asik geboy coy... lancar dan tanpa ciri-ciri bakal jadi bencana. Begitu sampe diujung Taman Ria Senayan menuju Gatot Subroto... lalu lintas pun berubah jadi Gatot... Gagal Total... alias macet abis.!!
Sejenak gue masih berpikir mungkin cuma merayap lenggang seperti biasanya, yang +/- ngabisin waktu sekitar 10 menit untuk sampe ke lampu merah Slipi. Tapi ternyata nggak bo.. Macetnya merayap padat bergerak tersendat.!! Butuh waktu 25 menit untuk sampe ke Slipi!!
Sumpah.. males banget waktu itu. Pikiran lantas berkecamuk soal kendaraan pribadi yang bejibun itu, dikombinasikan dengan ketidakmengertian gue, kenapa abis hujan Jakarta jadi macet parah? Kesimpulannya... entahlah.
Memang di Jakarta ini serba salah. Naik bis, kuatir copet, todong, rampok, dsb. Naik mobil, kuatir sama jalan yang semerawut, bisa-bisa mobil pada baret-baret. Tapi sebenernya ini masalah pembudayaan aja. Yang kalo dipikir, semua orang merasa lebih baik kalo bisa punya kendaraan pribadi.
Kalo menurut gue, justru sebaliknya, paling nggak untuk saat ini. Punya kendaraan pribadi di Jakarta justru bikin gue repot. Gue musti mikirin jalan yang semerawut, mikirin parkir, isi BBM, kepanasan (kalo naik motor), kalo punya mobil takut baret-baret, dsj.
Some say, mungkin gue parno or terlalu mikir yang ribet-ribet. “Kalo udah punya motor ya tinggal bawa aja.. nanti juga biasa“, begitu kata mereka. Tapi sementara semua orang berpikir bagaimana mereka bisa punya kendaraan pribadi, gue justru berpikir, bagaimana kalo semua orang naik kendaraan umum.
Sebenarnya, kalo emang mayoritas warga Jakarta lebih milih naik kendaraan umum, keyakinan gue, pemerintah juga akan memfasilitasi alat transportasi yang lebih baik dan yang cocok dengan keinginan banyak orang.
Tapi kayanya kalo ngomong soal transportasi dan kepentingan pribadi, kadang hal ini jadi dead lock. Banyak teman yang bilang, kalo gak ada kendaraan pribadi itu susah. Susah kalo kita mau ngapa-ngapain, mau keluar rumah juga jadi terbatas, trus bagaimana kalo ada anggota keluarga yang sakit, kalo ada beberapa urusan bisa sampe di tempat dengan lebih cepat, dsb.
Yah, intinya sih emang sama-sama positif. Gue juga bukan orang yang anti kendaraan pribadi or sangat mendukung transportasi umum di Jakarta. Tapi mungkin yang perlu dipikirkan adalah bagaimana sikap kita kalo lagi di jalan. Sikap kita sebagai pemilik kendaraan pribadi, sebagai penguna transportasi umum atau malah sebagai pengemudi angkutan umum tersebut.
Yang pasti sampe sekarang pola pikir, sudut pandang dan sikap antara pemilik kendaraan pribadi, pengemudi angkutan umum dan pengguna transportasi umum adalah seperti antara anjing, kucing dan tikus. Dengan catatan : siapa saja bisa jadi apa aja dalam perumpamaan ini. Misalnya terkadang pengguna transportasi umum bisa menjadi seperti anjing yang menciutkan nyali kucing dan tikus.
Monday, September 24, 2007
Links
Creative :
dafont
rokey
Buat yang kreatif bikin film pendek.
Bisa submit di Rollmio, kalo bagus bisa dapet award.
Movies :
Internet Movies Database
JoBlo
Ensiklopedia :
Wikipedia
Monday, August 27, 2007
Doa Bagi Bangsa
Sabtu kemaren gue ke P3M [25.08.07], tapi gak ikut acaranya, cuma di depannya aja. Sementara acara Sabtu kemaren adalah Praise & Prayer. Acara dipimpin Ev.Sobi, dan di depan aula gue masih bisa dengar pokok-pokok doa yang disebutkan.
Salah satu pokok doa yang akhirnya membuat gue nulis ini adalah mendoakan bangsa dan negara ini, Indonesia. Ev.Sobi mengajak para pemuda untuk mendoakan bangsa ini, mendoakan beberapa hal yang memang sedang dibutuhkan negara ini, yaitu pemulihan.
Yang lebih parah lagi, mungkin kita berharap kita tidak ada di negara ini. Padahal setiap orang sudah ada dalam rencana Tuhan. Termasuk ketika kita “ditempatkan” di sebuah negara, itu adalah rencana Tuhan. Ngomong kasarnya, itu adalah maunya Tuhan dan yang artinya, Tuhan punya maksud bagi kita dan negara kita berada.
Permasalahannya, apakah kita mau berjalan dalam rencana Tuhan?
Terkadang kita berpikir, sebagai warga negara, lebih aman kalo kita diam aja. Paling nggak kita tidak akan merasa “direpotkan” dengan hal-hal yang menurut kita gak penting. Tapi kenyataannya, bukankah setiap kita penting di mata Tuhan? Dan itu berarti semua yang ada juga penting, termasuk negara ini.
Itulah sebabnya, sebagai orang beriman, sudah sepatutnya kita turut memikirkan dan bahkan bertanggung jawab atas negara ini. Memang banyak hal yang kita lihat salah di negara ini. Tapi kalo cuma mengumpat, apa yang akan berubah? Tidak ada.!
Mencintai negara ini adalah sikap yang jauh lebih baik. Hal ini akan membuat kita berpikir, apa yang bisa kita lakukan bagi bangsa ini? Karena paling tidak, sampai kapan pun kita tetaplah warga Indonesia, atau bagaimanapun kita tetaplah orang Indonesia. Mau tidak mau, untuk suatu keberhasilan bersama, bukankah lebih baik semua orang turut berperan di negara ini?
Memang peran yang paling menonjol yang ada di negara ini adalah berperan dalam menghancurkan negara sendiri. Semua orang berlomba-lomba untuk korupsi, manipulasi dan cari sensasi. Tapi yang berperan positif juga tidak kalah banyaknya kok. Hanya saja mereka bukanlah orang yang suka cari sensasi.
Untuk itulah perlu lebih banyak orang lagi yang harus berperan dalam hal yang positif ini. Terlebih lagi bagi orang beriman, yang mana kita percaya bahwa Tuhan punya rencana bagi kita dan bangsa ini. Sudah barang tentu untuk menggenapi hal ini, kita perlu bergerak, bukan cuma berdiam diri. Dalam acara Sabtu kemaren, kita diajak minimal untuk senantiasa mendoakan bangsa ini, dan tentunya mendoakan dengan tulus dan penuh cinta pada bangsa ini.
Beberapa tulisan yang pernah gue buat, juga sering mengkritik negara ini, khususnya mengkritik para pelaku yang bersikap semaunya. Tapi sebenarnya gue berharap apa yang gue tulis itu bisa menjadi perhatian, walaupun untuk sedikit orang, bahwa apa yang terjadi di negara ini memang perlu diperhatikan, bukan di-peduli-amat-kan.
Overall, yang menjadi concern gue adalah, bagaimana kita peduli. Terlebih lagi peduli secara rohani, peduli secara bahwa kita adalah orang beriman. Yang mana, mungkin sekali Tuhan punya rencana ajaib dari diri kita. Bukan tidak mungkin hanya karena seseorang atau kelompok yang kecil bisa berperan penting dalam masalah yang besar dan rumit ini.
Berkutat pada diri sendiri dan lingkungan yang itu-itu saja terlebih lagi dengan masalah yang itu-itu juga, hanya akan membuat rutinitas yang berujung kejenuhan dan nggak jarang membuat kita hopeless. Tapi berkutat pada hal yang lebih luas, bisa memberikan kita sebuah “kekayaan” iman yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya.
Tuesday, August 21, 2007
Akeelah and the Bee
Kamu tahu, perasaan di mana semuanya merasa benar?
Di mana kau tidak harus mengkhawatirkan hari esok atau kemarin,
tapi kau merasa aman dan tahu kau berusaha sebaik mungkin?
Ada sebuah kata untuk perasaan itu.
Itu disebut CINTA.
You know that feeling where everything feels right?
Where you don’t have worry about tomorrow or yesterday,
but you feel safe and know you’re ada doing the best you can?
There’s a word for that feeling.
It’s called Love. L-O-V-E
Monday, August 20, 2007
Masih Sama
17 Agustus 2007, hari peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke 62.
Jalan-jalan banyak yang ditutup, entah untuk pawai tingkat kota, ataupun juga acara lomba-lomba antar RT.
Sejenak hari itu Indonesia tampak semarak. Entah pula karena memang bersyukur kalo Indonesia adalah negara merdeka. Atau emang taunya 17 Agustus itu adalah hari lomba nasional.
Tapi sepertinya nggak ada perubahan signifikan yang terjadi di negara ini.
Rutinitas nasional masih menjadi bahan berita. Bisa dipastikan, keesokan harinya, halamanan depan koran nasional memuat berita dan photo upacara pengibaran bendera di Istana Negara ataupun dibeberapa kantor pemerintahan.
Sudah barang tentu foto wajib adalah ketika Presiden menerima Bendera Pusaka dari seorang Paskibra, yang entah kenapa hampir semua pembawa Bendera Pusaka adalah wanita – mungkin karena yang membuat bendera pusaka pertama adalah wanita – dan nama serta sekolah nya pasti dicantumkan pula.
Halaman lain biasanya akan memuat pula kritikan kepada pemerintah dalam bentuk karikatur yang umumnya tentang “kamajuan” yang sudah dicapai.
Kalo kita melongok keluar. Melihat situasi di luar sana. Dan bukan cuma ikut meramaikan lomba. Mungkin kita akan bisa merasakan secara langsung, semuanya masih sama.
Pedagang bendera mulai merapikan bendera-bendera dagangannya yang tidak terjual. Pedagang minuman masih dengan gerobak yang sama, dan berharap pawai akan menambah omsetnya, walau pun cuma sehari itu.
Warga yang tidak ikutan lomba, sudah pasti akan “menjajah” mall dan taman hiburan, walaupun hanya sekedar windows shoping. Mumpung libur kata mereka.
Alhasil, sesaat mungkin ada perubahan. Yang ingin libur, terlaksana. Yang jualan, omset naik. Yang bersilahturahmi antar warga, ikut meramaikan lomba. Yang lainnya, mungkin nonton tivi dengan siaraan utama upacara bendera atau show-show lagu kebangsaan.
Keesokan hari nya lagi. Semuanya kembali seperti semula. Semua kembali berjuang untuk melawan kesulitan hidup. Bahkan orang suksesnya tetap perlu berjuang di negara merdeka ini.
Masih Sama
17 Agustus 2007, hari peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke 62.
Jalan-jalan banyak yang ditutup, entah untuk pawai tingkat kota, ataupun juga acara lomba-lomba antar RT.
Sejenak hari itu Indonesia tampak semarak. Entah pula karena memang bersyukur kalo Indonesia adalah negara merdeka. Atau emang taunya 17 Agustus itu adalah hari lomba nasional.
Tapi sepertinya nggak ada perubahan signifikan yang terjadi di negara ini.
Rutinitas nasional masih menjadi bahan berita. Bisa dipastikan, keesokan harinya, halamanan depan koran nasional memuat berita dan photo upacara pengibaran bendera di Istana Negara ataupun dibeberapa kantor pemerintahan.
Sudah barang tentu foto wajib adalah ketika Presiden menerima Bendera Pusaka dari seorang Paskibra, yang entah kenapa hampir semua pembawa Bendera Pusaka adalah wanita – mungkin karena yang membuat bendera pusaka pertama adalah wanita – dan nama serta sekolah nya pasti dicantumkan pula.
Halaman lain biasanya akan memuat pula kritikan kepada pemerintah dalam bentuk karikatur yang umumnya tentang “kamajuan” yang sudah dicapai.
Kalo kita melongok keluar. Melihat situasi di luar sana. Dan bukan cuma ikut meramaikan lomba. Mungkin kita akan bisa merasakan secara langsung, semuanya masih sama.
Pedagang bendera mulai merapikan bendera-bendera dagangannya yang tidak terjual. Pedagang minuman masih dengan gerobak yang sama, dan berharap pawai akan menambah omsetnya, walau pun cuma sehari itu.
Warga yang tidak ikutan lomba, sudah pasti akan “menjajah” mall dan taman hiburan, walaupun hanya sekedar windows shoping. Mumpung libur kata mereka.
Alhasil, sesaat mungkin ada perubahan. Yang ingin libur, terlaksana. Yang jualan, omset naik. Yang bersilahturahmi antar warga, ikut meramaikan lomba. Yang lainnya, mungkin nonton tivi dengan siaraan utama upacara bendera atau show-show lagu kebangsaan.
Keesokan hari nya lagi. Semuanya kembali seperti semula. Semua kembali berjuang untuk melawan kesulitan hidup. Bahkan orang sukses pun tetap perlu berjuang di negara merdeka ini.
Friday, August 10, 2007
Saat Itu dan Nanti
Saat itu...
Aku berharap, sang waktu mau sepaham dengan ku. Aku berharap, sang waktu mau memperlambat perputarannya. Aku berharap. Sejenak kulihat jam yang terpampang di depan ku. Dan saat itu pula harapanku buyar. Sang waktu tidak sepaham dengan ku, dia tetap berjalan sesuai kehendaknya. Seolah sang waktu tidak memberi ku kesempatan untuk menatap wajah manisnya lebih lama.
Saat itu...
Emm..tidak..sebelum saat itu. Seakan aku tahu bahwa saat itu mungkin kali terakhir aku bisa menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Dan memang apa yang aku duga, sepertinya terjadi saat itu. Apa yang ku duga, tapi bukan yang ku harapkan.
Saat itu...
Oh my gosh... sepertinya baru kali itu aku berani menatapnya lama. Menatap dengan perasaan yang berbeda. Ya.. kau menatapnya, bukan melihatnya. Dan aku tahu, dia begitu manis dan indah. Sayangnya, saat itu mungkin waktu nya belum sejalan dengan waktu ku. Aku hanya bisa merekam dalam pikiranku dan kupastikan tak akan pudar dalam ingatan ini.
Saat nanti...
Aku masih berharap, bahwa saat itu bukanlah yang terakhir aku bisa menatapnya. Mungkin ada waktunya nanti aku bisa menghabiskan waktu bersamanya lagi. Duduk bersama & berbincang bersama. Saat nanti mungkin akan aku rindukan dan aku nantikan. Walaupun entah kapan. Selama ada pengharapan, itu sudah membuatku senang.
Saat nanti...
Aku masih berharap bisa ku gapai tangannya dan membawanya ke dada ini. Supaya dia tahu bahwa cinta ini masih tetap ada. Dan ketika itu, aku berharap waktu nya sudah sejalan dengan waktu ku.Saat nanti...
Ketika nanti itu ada.
Thursday, August 09, 2007
Sebuah Persinggahan
Dalam sebuah perjalanan, kerap kali kita harus berhenti sejenak. Apalagi kalo perjalanan yang kita jalani sudah cukup jauh dan melelahkan. Berhenti sejenak dipersinggahan sungguh suatu hal menyenangkan. Paling tidak itulah bayangan kita. Sebuah persinggahan yang menyediakan fasilitas untuk melepas lelah dan penat. Dan mungkin sebuah tempat yang indah untuk dilihat. Yang akhirnya bisa mengembalikan semanggat dan tenaga kita untuk melanjutkan perjalanan baru.
Itulah bayangan kita... dan harapan kita.
Hanya saja belum tentu apa yang kita bayangkan menjadi kenyataan. Tidak semua tempat persingahan sama. Dan kali ini, mungkin kita menemukan apa yang jauh dari bayangan kita.
Tapi perjalanan sudah begitu jauh, dan bagaimana pun juga kita harus berhenti. Entah itu berhenti untuk waktu yang lama atau hanya sejenak. Kita tidak mungkin memaksa diri untuk terus berjalan dan hanya berharap akan mememukan perhentian yang indah. Sampai kapan?
Ketika waktunya tiba, dimanapun perhentian itu, harus kita singgahi. Paling tidak bisa menjadi suatu tempat bagi kita untuk mengambil keputusan dan rencana berikut. Rencana bagaimana meneruskan perjalanan yang sudah cukup jauh ini, atau mungkin harus kembali memulai perjalanan dari awal.Tapi terkadang hanya berharap sudah cukup membuat perjalanan ini indah.
Thursday, July 12, 2007
Indonesia Terlalu Bersalah
Selama musim ujian, gak keitiung berapa kasus bocoran soal ujian. Dan entah kenapa pula, kasus ini jadi ngambang, gak tau siapa yang bocorin. Padahal judulnya jelas "ujian negara". Guru-guru juga pasrah aja, entah karena emang gak punya kuasa lebih, atau udah dikasih bagian sama pejabat terkait. Akhirnya bagi mereka yang penting muridnya lulus.
Abis lulus, giliran orang tua yang pusing. Ada anak yang gak bisa ambil ijasah karena gak mampu bayar uang ijasahnya yang "cuma" beberapa puluh ribu rupiah. Ada lagi yang bingung karena gak tau anaknya mau dilanjutin kemana. Sekolah terlalu mahal bagi mereka. Sementara mereka pernah berharap pada janji pemerintah bahwa biaya sekolah bisa murah. Ya.. mungkin bagi pejabat terkait, jumlah jutaan rupiah adalah murah, tapi bagi tukang ojek, ibarat harus jual rumah!
Dari pada pusing soal sekolah, toh murid-murid itu tetap berdarmawisata keluar kota. Sebagai bagian dari acara "syukuran" selepas ujian. Tapi apa mau dikata, darmawisata jadi derma bagi bencana. Belasan siswa-siswi jadi korban karena kurang profesionalnya armada angkutan yang dicarter pihak sekolah. Sebagian orang bilang ini mungkin emang udah nasib.
Tapi dalam rentang minggu yang sama, terjadi lagi beberapa kecelakan lalu lintas yang disebabkan oleh pengemudi yang ugal-ugalan. Bahkan tak luput pula pelawak Taufik Safalas jadi korban, meninggal dunia. Sementara pihak terkait hanya saling tuding, bukannya saling koreksi dan memperbaiki.
Terkait dengan armada angkutan. Kali ini negara secara langsung kena tampar. Maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia, dilarang terbang ke negara-negara Uni Eropa. Dengan alasan ketidaklaikan terbang. Kasus ini bukanlah hal sepele. Kalo sampai benar-benar dilarang terbang, mau dapet omset dari mana lagi maskapai itu! Dan bukan cuma itu, hal ini seolah memperjelas bahwa Indonesia negara yang tidak baik!
Sementara yang terkait dengan masalah internasional, sepertinya untuk pertama kali dalam sejarah olahraga kelas internasional, dalam hal ini sepakbola piala Asia. Sempat-sempatnya ketika pertandingan antara Korea dan Arab, lampu di stadion utama Senayan mati!! Emang sih gak mati total, tapi tetep aja, sebagian lampu mati ditengah-tengah pertandingan.!! Kalo mati karena adanya pengaruh alam - hujan, badai, petir,dsj - mungkin orang bisa paham. Dan lagi, selebihnya pihak terkait cuma bisa saling tuding.
Sampai hari ini "cuma" itu yang tersiar. Dan gak nutup kemungkinan kalo ada banyak hal lain yang terjadi yang tidak disiarkan.
Mungkin ada yang bilang, setiap negara juga ada masalah kok. Dan mungkin ada yang punya masalah lebih besar. Seperti negara-negara Timur Tengah, Afrika dan Eropa Timur. Mungkin mereka selalu punya masalah yang lebih pelik. Tapi kalo mau dibandingkan, masalah meraka sepertinya memang harus terjadi sebagai proses sebuah negara. Sementara Indonesia... sudah berapa lama jadi negara? Dan juga, gak bisa dipungkiri, kalo di Indonesia masalah terjadi karena adanya birokrasi yang gak jelas. Belum lagi pihak-pihak yang selalu egois dan ambil kesempatan dalam kesempitan.
Mungkin sebagai orang-orang muda dan generasi penerus, udah saatnya kita "one step further". Lebih menunjukan kontribusi sebagai warga negara. Bukankah kita ditempatkan di Indonesia ada tujuannya? Yang jelas gak gampang, tapi minimal kalo kita punya awareness, mungkin bisa berdampak sesuatu, entah sekarang atau suatu waktu nanti.
Paling nggak, kita jangan ikut membuat Indonesia semakin bersalah


