Thursday, April 05, 2007

36 AD

Hari ini aku tidak berencana bangun pagi. Kalaupun mau mengembalakan domba, aku berencana agak siangan. Tapi, entah hari apa saat ini, seingatku bukanlah hari penting atau hari perayaan di kota ku. Kalau pun ada sepertinya masih dua hari lagi. Apa budaya kota ku mulai berubah hari ini? Entahlah…

Yang pasti di luar sana, suara itu begitu gaduh. Seakan seluruh penduduk kota keluar rumah untuk sebuah perayaan… atau menyaksikan sebuah kejadian. Kejadian yang begitu dasyat tentunya, yang bisa membuat seluruh penduduk kota keluar. Yang tentunya memaksaku juga untuk membatalkan rencana bangun siang.

Seingatku, waktu masih cukup pagi. Tapi orang ada di jalanan utama kota ku, sudah penuh sesak. Aku masih meraba-raba dan mencoba mengingat, apakah sebelumnya ada pengumuman dari pejabat kota, bahwa hari ini adalah hari penting. Seingatku tidak…

Aku tidak sempat bertanya, karena suasana begitu ramai dan gaduh. Sulit rasanya mengalihkan perhatian orang pada pertanyaanku. Aku hanya bisa melihat mereka berteriak-teriak, hampir semuanya meneriakkan kata-kata yang sama, hanya saja saling sahut menyahut, tidak serempak. Tidak sedikit pula aku lihat perempuan-perempuan menangis…

Sampai beberapa menit kemudian, aku masih tidak tahu apa atau siapa yang mereka teriaki dan tangisi. Sampai akhirnya suara cemeti itu membelah kegaduhan mereka-mereka yang berteriak… Sedetik kemudian aku sadar, dia lah yang mereka teriaki dan tangisi. Tapi pada detik yang sama, aku masih tidak mengerti, seberapa pentingnya orang ini, sampai seluruh penduduk kota ingin menggiringnya ke tempat akhir hidupnya?

Seingatku, belum pernah ada penjahat yang diantar ke bukit itu oleh seluruh penduduk kota. Paling banter, hanya anggota keluarganya, itu pun kalau mereka tidak merasa malu. Tapi orang ini.? Kejahatan apa yang sudah diperbuatnya? Seingatku lagi, tidak pernah ada berita tentang kejahatan yang begitu besar yang terjadi di kota ini.

Aku semakin penasaran, siapakah orang ini? Sebentar lagi dia akan melewati tempat ku berdiri….

Astaga.?!! Kalaupun aku pernah tahu siapa orang ini, aku pasti tidak akan mengenalinya. Seluruh wajah dan tubuhnya bisa kupastikan rusak… Kalaupun dia sahabatku, aku pun tidak bisa mengenalinya. Darah sudah bercampur peluh, tanah dan debu jalanan. Dan entah campuran apalagi yang melekat di wajah dan tubuhnya. Karena sepanjang jalan ini saja, entah sudah berapa banyak orang meludahinya, entah sudah berapa banyak buah busuk yang dilempar ke arahnya. Pemandangan yang tidak akan dilupakan siapapun, bahkan penjahat kelas berat pun, belum pernah disiksa seberat ini dipenjara.

Sungguh, aku tidak mengenalnya. Tapi ramainya orang yang “mengantar” membuat ku ingin mengetahuinya.

“Siapa orang ini..?”, tanya ku pada orang yang ada di sebelahku.

“Hah..?!! Apa…?!! Woi.. Salibkan dia.!! Salibkan dia..!! Bantai.!! Bunuh.!!”, teriak orang itu tidak menjawab pertanyaanku. Tapi aku mulai menangkap kata-kata yang diteriakan orang-orang sepanjang jalan ini. Salibkan dia.. Bantai.. Bunuh.. Ada lagi yang berteriak… Penghujat…

“Hei..siapakah orang ini..?”, tanyaku lagi.

“Heh..? Kau tidak tahu.?!! Dia Yesus..!! Nabi palsu yang sudah menghujat Allah kita..!!”, akhirnya dia menjelaskan.

Yesus..? pikirku. Yesus dari Nazaret itu.?? Apa tidak salah? Aku pernah mengikutiNya beberapa kali. Aku pernah mendengarkan pengajaranNya, karena memang Dia nabi, paling tidak itu yang kutahu. Selama ini tidak pernah aku menilai bahwa apa yang

Dia katakan salah. Bahkan aku pernah menyaksikan Dia menyembuhkan banyak orang sakit dan cacat. Setahu ku, itu tidak salah.

Kalau dikatakan Dia menghujat Allah, tidak pernah aku dengar hal itu dari mulutNya. Bahkan Dia selalu mengatakan bahwa Allah akan membebaskan manusia dari dosa. Dia sepaham dengan Allah yang aku kenal. Jadi dimanakah letak menghujatnya.?

Memang Dia pernah mengatakan, bahwa Dia adalah jalan menuju Bapa di sorga. Dan bahwa tidak seorang pun bisa ke sorga, kalau tidak melalui Dia. Apakah ini yang mereka katakan menghujat.? Entahlah… Untuk hal yang satu ini akau memang belum paham. Sama belum pahamnya aku, kenapa Dia harus dihukum senista itu.

Masih ingat di pikiran ku, ketika Dia memasuki kota ini dengan keledai putih. Seluruh penduduk kota menyambutnya. Jalan-jalan utama kota ini, sama seperti hari ini, penuh disesaki orang-orang yang menyambutNya. Kota ini begitu indah waktu itu. Semua orang menyambutNya dengan daun palem, gambus dan kecapi, bahkan aku turut mengelar jubahku sebagai alas jalan begi keledai Nya. Anak ku ikut belari dibelakangNya sambil melambaikan daun pelem. Istriku turut menari bersama perempuan-perempuan lain.

Sungguh, seperti peyambutan raja yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan.

Tapi hari ini, sepertinya ada yang sama, keramaian yang sama, bahkan hampir semuanya adalah orang-orang yang sama. Hanya saja tindakannya berbeda. Aku tidak mengerti, kesalahan apa yang diperbuatNya, sampai-sampai banyak orang berbalik mengecamNya dan menginginkan Dia mati. Mati dengan tidak terhormat.

Sungguh.. aku tidak mengerti, tapi aku tahu, Dia tidak bersalah.

LangkahNya semakin pelan, tapi tidak berhenti. Bukan karena Dia tidak mau berhenti. Tapi sorot mataNya mengatakan, bahwa perjalanan ini harus diselesaikan. Sorot mata yang kuingat, dalam keletihanNya dan kesakitanNya, mata itu tetep teduh dan penuh kasih. Jalan semakin menanjak. Aku tahu, semakin berat Dia memikul salibNya. Semakin sakit seluruh tubuhNya, bahkan hatiNya… Sementara, orang-orang tak henti-hentinya meneriakinNya.

Bahkan sampai di puncak bukit, massa masih meneriakiNya. Dia tetap diam, entah diam karena menahan sakit, atau mungkin diam karena kasih. Sesekalinya Dia bersuara mungkin ketika paku besar itu ditancapkan ke tangan dan kakiNya. Kali ini aku yakin, itu suara kesakitan yang luar biasa.

Orang-orang mulai terdiam ketika salib diangkat. Tidak mudah mengkat salib yang besar itu dengan tubuh yang menggantung di atasnya. Butuh teknik tersendiri dan orang-orang yang kuat untuk mengangkatnya. Semua terdiam. Sesekali Dia mengeluarkan suara lagi, suara kesakitan… kesakitan yang amat sangat.

Dalam waktu hitungan detik, salib itu sudah berdiri kokoh. Kembali orang-orang berteriak, kali ini teriakan bersorak, seakan keinginan mereka sudah tercapai. Ya.. memang itulah yang mereka inginkan.

Aku.? Apa yang aku inginkan? Aku tidak tahu. Hanya saja batinku berkata… Dia tidak bersalah.

Aku memutuskan kembali ke rumah. Dengan langkah gontai, kutinggalkan bukit itu. Sejenak kulihat ke belakang. Seorang tentara sedang menyodokan sesuatu ke mulutNya.. entah apa…

Jalan utama yang tadi penuh sesak, sekarang sudah sepi. Tampak jelas bekas-bekas darah yang sudah mengering ada di sepanjang jalan ini.

Sepanjang jalan, aku hanya bisa berpikir… entah kenapa orang-orang itu menyalahiNya. Bukankah selama ini mereka juga sudah bersama dengan Dia. Mereka saja bisa berpaling, padahal sudah mengenalNya. MengenalNya sebagai Yesus, nabi dari Allah. MengenalNya sebagai pemberi mujizat.. mujizat dari Allah. MengenalNya sebagai pemberi damai.. damai dari Allah.

Tapi mereka masih bisa berpaling. Bagaimana dengan orang-orang yang belum mengenalNya? Yang aku tahu, mereka harus diberitakan. Diberitakan tentang siapa Yesus sebenarnya. Jangan sampai mereka mendengar kabar lain yang bukan sebenarnya. Kabar yang justru membuat mereka berpaling sebelum mereka mengenalNya.

Karena aku tetap yakin, bahwa Dia benar, bahwa dia adalah jalan keselamatan…

Mungkin itu sebabnya Dia harus mati disalib.

Friday, March 30, 2007

21 Juta

DPR minta dibeliin laptop yang seharga 21 juta!! Bodoh.!! Demikianlah kalo otak, hati nurani dan fakta udah gak sinkron.

Mahasiswa paling pinter yang dapet beasiswa aja kalo emang perlu laptop, beli pake kocek sendiri. Walo pun secara ekonomi si mahasiswa pas-pasan. Tapi demi pendidikan (yang didapet gratis pula), dia pasti akan cari cara untuk beli laptop. Kalo perlu seken, dan dengan spec secukupnya.

DPR..?!! Udah notabene orang kaya (dari sononya), digaji negara gede, dapet fasilitas moral lainnya…. masih minta pula dari negara untuk laptop yang semesti bisa mereka beli pake kocek sendiri.

Man.. kalo lo mo beli laptop yang pake berlian seharga 100 juta, lo juga gak bakal kehabisan duit. Secara itupun duit korupsi kan..?? (asas duga pra-bersalah). Lagian laptop 21 juta.. pake dipake buat edit film ‘n animasi 3D..?!!

Bukannya underestimate… tapi seperlu-perlunya buat tugas ke-DPR-an, ya paling top juga buat ngetik dan baca proposal setebel 500 halaman kan.? Lebih top dikit, buat download pdf 50MB-an. Ya.lebih top lagi untuk preview hasil renderan 3D lah…

Total untuk fungsi itu, laptop 10 juta juga udah bergengsi.

Hmm… sumpeh, gak abis pikir gue. DPR selalu ada aja kepentingan yang gak penting. Sementara negara belon tambah bener. Coba aja, selama masa jabatan yang 5 taon itu… 3 taon aja mereka tobat dan berbuat baik dan bener…

Paling mereka bakalan punya catatan kerja yang cukup untuk dibanggakan generasi penerus.

Kecuali kalo si mahasiswa pinter tadi jadi anggota DPR dan ternyata punya moral yang ancur juga.!!

Wednesday, March 14, 2007

Sendiri

Dalam hitungan menit dia berlalu sudah. Tinggal jalan setapak yang harus ditelusuri. Sesekali ditemani bunyi-bunyian alam - kentut juga bunyi-bunyian alam toh – yang menjauh. Hanya terpaan angin malam yang terasa dekat, bahkan berusaha menempel di kulit.

Sendiri…

Ujung jalan setapak bukan berarti ujung kesenyapan. Tidak ada keramaian di sana. Yang ada hanyalah sebuah bangunan tua yang masih terlihat tegar diantara gedung-gedung modern yang muktahir.

Sendiri…

Sekejab kesunyian berpindah ke lorong-lorong kusam bangunan tua itu. Kembali menelusuri koridor sepi dari satu lantai ke lantai lainnya. Sesekali ditemani bunyi derit pintu atau jendela tua yang diterpa angin. Dan entah kenapa angin itu terus beusaha hinggap di kulit, tapi tak pernah bisa.

Sendiri…

Ujung lorong bukan berarti ujung kesenyapan. Tidak ada keramaian di sana. Yang ada hanyalah sebuah pintu tua yang seakan-akan meminta untuk dibuka. Entah untuk apa, padahal mungkin sama saja. Atau bahkan semakin senyap di sana.

Sendiri…

Ada keraguan dan penasaran terhadap apa yang ada di balik pintu. Walaupun kemungkinan bisa saja lain. Ada keramian di sana. Tapi ragu… Bagaimana jika sama, sunyi dan senyap. Akankah perjalanan ini terus sama? Ditemani sunyi? Jika beruntung semilir angin turut menemani.

Sendiri…

Ternyata kaki ini lebih cepat dari pada keputusan otak. Otak hanya dipaksa sepakat untuk berbalik arah. Berbalik mencari jalan lain, ataupun celah sekalipun, asalkan keramaian ada di sana dan jelas untuk dihampiri. Tidak seperti pintu yang tertutup, yang hanya menyimpan keraguan.

Sendiri…

Langkah sudah semakin jauh. Meninggalkan pintu tertutup. Yang tidak pernah diketahui apa yang ada di baliknya. Sudah terlambat untuk kembali. Dan hanya berharap bisa menemukannya lagi… untuk dibuka… Apapun resikonya. Karena toh, sampai sekarang keramaian tidak pernah ditemukan dan tetap…

Sendiri…

Monday, March 12, 2007

Kangen

Tiba-tiba aja muncul perasaan kangen…
Entah pada siapa or pada apa…
Pengennya hal itu terjadi…
Tapi karena gak tau apa…
Ya cuma bisa simulasi aja…

Sepertinya menyenangkan kalo bisa ketemu dia,
ngobrol bareng, jalan bareng…
em.. std-nya nonton bareng juga asik kali ya…

Sepertinya enak juga kalo bisa ada di daerah tinggi,
yang sejuk… kebun teh is still the best location.
Jalan sendiri keliling kebun teh juga ok-ok aja.

Sepertinya exciting juga kalo bisa ke Jogja or Bali barangkali,
naik bis or kereta api…
Lewatin kota yang satu ke kota lain,
itu pengalaman yang gak terlupakan… kaya dulu..

Em.. kangen apa lagi ya.?

“Kangen aku pada dirimu,
tiada akan dapat ku obati
tanpa ku belai rambutmu
kucium pipimu dan..
kunikmati senyum di wajahmu…”
-- Maliq & D'essentials

Friday, March 02, 2007

Love is Problem

Kemaren ketemu lagi sama orang yang katanya sedang punya masalah. Cerita punya cerita – entah kenapa orang ini bisa terbuka – diketahui bahwa masalahnya sebenarnya umum. Masalah yang ternyata hampir dialami semua orang. Tapi masalah umum ini serimg kali berakibat fatal, kalo kita tidak bisa mengendalikan diri.

Kalo mau dihitung-hitung, tidak banyak orang yang mengalami masalah, katakanlah sebagai korban perang, kehilangan keluarga karena bencana, terlibat skandal politik, skandal seks, dsb-dsb. Ini kalo dipersentasiin dengan jumlah penduduk bumi. Dan dalam konteks tidak semua orang akan mengalami masalah tersebut, walaupun masalah tersebut termasuk sangat berat dan complicated.

Keluarga, teman, pacar dan uang, rasa-rasanya ke empat hal ini yang hampir dialami semuara orang. Dan cinta menjadi dasar timbulnya masalah ini. Orang yang tidak mempunyai ambisi cinta, mungkin tidak menganggap hal tersebut adalah masalah.

Sayang terhadap keluarga atau disayang keluarga, kerap menjadi masalah kalo kodisinya terbalik. Tidak lagi disayang, tidak lagi menyayangi, atau sesuatu berubah yang menyebabkan kondisi jadi gak enak ditengah-tengah keluarga. Yang kadang kita nggak tahu apa masalahnya, tapi yang kita tahu, sekarang ini sudah lain kondisinya. Seringkali ini jadi masalah yang benar-benar mengganggu dan menyulitkan. Apalagi jika keputusan harus diambil.

Terhadap teman juga kerap muncul masalah yang membuat suasana jadi tidak enak. Kalo satu case terjadi dan mungkin tidak saling ketemu lagi, bisa dibilang situasi jadi netral. Tapi jika memang harus bersama dalam satu lingkungan, suasana tentu jadi serba salah. Nggak jarang, hal seperti ini mengganggu juga dan kadang bikin stres. Terlebih lagi bungungan dengan teman yang sudah dilandasi rasa persabahatan (sayang).

Banyak orang yang dijumpai sering mengalami masalah dengan pacarnya yang berbuntut stres, trauma, dan gak jarang juga ada yang sampe berpikiran pendek – bunuh diri. Mencintai seorang bisa membuat kita menganggapnya lebih penting dari semuanya, bahkan lebih penting dari Tuhan. Bisa kebayang dong, kalo satu kali terjadi konflik, mungkin yang lagi trend, selingkuh atau dicampakkan. Mungkin benar kata sebuah lagu, “to much love will kill you..”

Uang menjadi masalah lain yang kerap timbul pada setiap orang. Entah itu gak punya uang, atau banyak utang, atau bahkan kebanyakan uang juga bikin masalah. Cinta uang, bisa menyebabkan kondisi lebih fatal.

Cinta tidak pernah salah, karena cinta itu murni diberikan dari Tuhan. Dan kerena Tuhan adalah Cinta (Kasih) itu sendiri. Manusia yang memperlakukan cinta sebagai ke-egois-an yang kerap menyebabkan masalah yang dihubungkan dengan cinta. Sebetulnya, kita harus memiliki cinta. Selama dalam kadar yang benar seperti yang dikehendaki Tuhan, maka cinta itu indah, dan tetap indah, walaupun cinta pernah menyakitkan.

Seperti kata lagu lain..
“let it be love..”

Thursday, February 22, 2007

Other Side

Tidak selalu apa yang kita pikir normal, dianggap normal oleh orang lain. Normal di sini, bukan berarti waras vs. gila. Tapi apa yang kita anggap wajar-wajar aja, belum tentu orang lain anggap itu wajar.

Misalnya, sikap yang tertutup, menganggap tidak semua hal perlu diungkap, atau merasa tidak perlu “berelationship” dengan orang lain. Bisa jadi sikap ini bukanlah hal yang mengganggu bagi seseorang atau sekelompok orang. Dan bisa jadi hal ini adalah wajar bagi pelakunya. Tapi bisa jadi juga sikap ini mengesalkan orang lain, menjengkelkan pihak-pihak yang terkait dengan orang itu, dan bahkan bisa membuat orang lain jadi stress dan tertekan karena sikap seperti ini.

Siapa yang salah persepsi kalo begitu? Apakah yang mempunyai sikap yang salah dan emang dianya gak wajar. Atau orang lain yang terlalu berprasangka dan merasa ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi pada orang itu?

Setiap orang punya “Other Side”. Yang tidak jarang other side itu mungkin adalah real side-nya orang itu.

Other side bisa jadi emang terus berdampingan dengan hidup seseorang. Tinggal pilihan orang itu, mau menampilkan yang mana dalam real life nya. Other side bisa jadi “hinggap” karena adanya satu hal yang pernah terjadi, biasanya dikategorikan sebagai trauma, walau mungkin belum tentu itu adalah trauma.

Gak jarang juga kita gak tahu apa yang menyebabkan other side itu terus menghinggap kita. Yang kita rasa bahwa segalanya normal dan biasa. Atau tidak jarang yang kita rasa, bahwa kita maunya begitu. Hanya saja sosialisasi mengingkin kita tidak begitu.

Jadi, apakah yang sekarang ini Real Side or Other Side ?

Wednesday, February 14, 2007

Love is Never Blind

"Eh, kamu inget gak bulan November taon lalu, kamu traktir aku di mana ya?"

"Di Shu Shi Tei ya kalo gak salah..?"

"Bukan deh... yang aku inget tuh di Senayan City, tapi kayanya bukan Shu Shi Tei... aduh.. di mana ya..?"

"Iya nih, aku juga agak2 gak yakin gitu deh... Kalo Oktober-nya kan pas kamu ultah kan? Kamu traktir aku di American Grill yang di Plaza Semanggi kan..?"

"Iya lah...kalo itu kan pas aku ultah.. pasti inget dong... Aduh.. aku penasaran nih yang November itu di mana ya..?"

"Kalo yang September sih aku masih inget juga... di Dome Plaza Indonesia, yang giliran aku yang traktir, yang Desember di Hard Rock Cafe, yang giliran kamu lagi... iya kan..?"

"Iya.."

"Nah yang November itu.. aku kok juga tiba2 nge-blank gini ya..?"

"Oh.. aku inget.. November kamu traktir aku di Cafe Wien PS.. lagi..."

"Oh iya.. bener.. bener.. abisnya kita jarang ke PS juga si ya... Eh, waktu itu kenapa kita bisa ke PS ya...?"

"Kayanya sebenernya mau ke Sen-City, tapi gak jadi kan..."

"Kalo gak salah aku beliin kamu boneka juga deh.. masih ada..?"

"Ya masih lah.. hehehehe.. lucu banget bonekanya, tapi aku kotakin, abisnya takut kotor.. kadang2 aja aku keluarinnya sih... Eh, nanti inget aku ya, aku mo catet di PDA, biar gak lupa kita udah ntrattir di mana aja.."

-------
Sejak masuk di mikrolet itu, gw udah curiga, dua orang ini pasti gak lazim (kecuali kalo jaman sekarang udah dibilang "biasa aja lagi..."). Duduknya dempet banget, pake tas mini travel untuk fitness yang sama, dan dipastikan tangan mereka sambil gandengan-melilit satu sama lain.

Masih muda, seumuran anak kuliah tingkat 2 or 3, tampang dan ekonomi termasuk di atas rata2. Dan bisa dipastikan anak kost. Bodi dan kulit juga terawat. Pokoknya tipe yang bakal dilirik deh sama cewe2 kalo mereka jalan di mall.

Cuma sayangnya.. homok.!!
"Biasa aja lagi.."

Tuesday, February 13, 2007

Pasangan Baru

Sejak mereka resmi jadi pasangan, senyum & tawa ceria selalu melekat di wajah mereka. Bahkan mereka pun seolah selalu terekat satu sama lain, tak bisa dipisahkan. Kemana-mana selalu berdua, tawa ceria, cekikian dan pangilan mesra menjadi kosa kata baru bagi mereka.

Indah juga ngeliatnya…

Jalan berdua di mall sambil bergandengan tangan. Sesekali mampir di etalase toko perhiasan yang gemerlap, membuat cinta mereka pun semakin gemerlap. Saling menunjuk cincin atau liontin yang berkilau, dan membayangkan pasangannya akan semakin cantik kalo perhiasan itu dikenakan.

Lucu juga ngeliatnya…
Bangku taman pun jadi kekuasan mereka berdua. Saling becanda ceria cekikikan, sambil menikmati es krim se-cone berdua, entah untuk mesra atau karena irit. Saling mengusap tetesan es yang ada di ujung mulut, menambah indah suasana sore itu. Tanpa peduli kalo seorang ibu tua berharap bisa duduk di bangku taman itu.

Kasian juga ngeliatnya…

Mereka tambah senang ketika sampai di depan loket bioskop. Dengan tetep becanda mesra, butuh waktu beberapa puluh detik bagi mereka untuk memutuskan akan duduk dimana. Mungkin karena mereka bingung, kenapa di bioskop itu banyak bangkunya. Harapannya hanya ada sepasanga bangku merah yang empuk untuk mereka berdua.

BT juga ngeliatnya…

Seakan kecerian tidak ada habisnya. Pojokan lobi jadi markas baru mereka sambil menunggu pintu teater dibuka. Popcorn dan soft drink menemani mereka kali ini. Berarti perihal es krim cone tadi bukan karena irit, karena mereka toh masih mampu beli popcorn dan soft drink. Seperti film yang tidak kehabisan adegan, saling suap butiran popcorn menghiasi canda mereka kali ini.

Ternyata memang waktu tayang masih cukup lama.

Bosan bermain dengan popcorn, mereka pun meninggalkan pojokan lobi. Dengan tetep becanda ceria mesra, mereka mencari keceria lain bersama poster-poster film, game-game arcade dan entah apa lagi sampai plang bioskop depan lobi pun jadi sasaran objek canda mereka.

Menghilang dibalik pintu lobi bioskop dan entah kemana. Mungkin mereka menemukan tempat baru untuk asik berdua, di sekitar depan lobi bioskop. Aneh juga rasanya kehilangan pandangan mereka. Seakan satu-satunya hiburan hari itu sudah habis.

Ternyata tidak juga. Pintu teater sudah dibuka dan hiburan baru akan segera tayang. Tapi mereka tidak kunjung muncul dari balik pintu lobi bioskop. Padahal panggilan sudah mengulang tiga kali.

Dalam teater semakin gelap dan pertunjukan sudah dimulai. Sepasang bangku baris F bagian tengah itu masih kosong. Padahal pertunjukan sudah berjalan 10 menit. Selanjutnya, pertunjukan lebih asik diliat daripada sepasang bangku kosong itu.

Satu setengah jam kemudian pertunjukan pun berakhir.

Sepasang bangku baris F bagian tengah itu tetep kosong.

Bodoh juga ngeliatnya…

Monday, February 12, 2007

Aje Gile

Udah berap bulan nih gw gak nulis2 yah..??
entahlah...

Pengharapan

Terkadang ada yang kita harapkan belum tentu kita dapatkan.
Bukan karena harapan itu salah, tapi mungkin memang harapan itu bukan milik kita.

Jalan yang terbaik untuk tidak kecewa,
hanyalah dengan bersyukur.

Segala sesuatu ada hikmahnya, karena manusia diciptakan dengan rancangan sempurna.
Bukan dengan “gambling” yang ujung-ujungnya tidak jelas antara ada dan tiada.

Kembali berharap akan membuat hidup lebih aktif.
Dengan berharap, berarti kita menjalan hidup kita sebagaimana yang sudah dirancangkan.

Artinya, kita melihat bahwa hidup kita berguna.
Bukan sekedar mencari kekosongan.

Walau kembali, mungkin saja harapan baru itu kembali tak terwujudkan.

Tapi percayalah ada satu pengharapan yang pasti terwujud,
bahkan sebelum kita berharap pada pengharapan itu.

Monday, August 07, 2006

Sweet Dream

There was a long time ago since I had a sweet dream.
Yesterday I got the new one. And the dream was so sweet.
The one of that I won't to forget it.

But that just a sweet dream...

Monday, June 26, 2006

The Flow

Mengalir begitu aja. Tidak ikut arus, tidak pula karena kekuatan sendiri. Satu2nya keyakinan adalah : semua sudah diatur.

Memang kita harus ada usaha. Usaha yang serius memang bisa menambah nilai akademis kehidupan. Tapi keyakinan butuh suatu "kepasrahan" di luar usaha.
----

Hari ini gue mulai di kantor baru. Secara status adalah Graphic Designer - demikian kata lowongan waktu itu. Hasil pembicaraan dengan semua pihak di kantor ini, gue diharapkan bisa mengerjakan hal lain selain design. Hal2 yang berbau IT, networking, web, dsj.

Beberapa taon lalu emang gue bisa dibilang bisa... Karena pertama kali gue kerja emang bidangnya itu. Walopun kaga pernah sampe ke programming.

Bagusnya di tempat baru ini, gak terlalu besar & orangnya juga gak banyak. Dan sistem udah berjalan bagus. Paling gue tinggal maintainnya aja. Semoga gak menyulitkan dan kalo bisa hal2 lainnnya menyenangkan.
----

Hari pertama mengalir begitu aja. "Aja" dalam arti kalo ditanya, maka jawabnya... "Yah begitulah.."

Yang pasti sekarang ini gue di lingkungan kerja yang beda lagi dari sebelum-sebelumnya.

Tuesday, June 20, 2006

Piala Dunia : Sebuah Proses

Selama musim Piala Dunia ini, kaga heran kalo di kostan gue, para bola mania merasa wajib nonton semua pertandingan. Ditambah nontonnya rame2, suasana jadi seru banget menurut mereka.

Gue gak terlalu suka nonton bola. Kalo baca liputan or kisah2 di balik pertandingan itu, masih sukalah.

Sayangnya, umumnya anak2 kostan kalo nonton bola itu buat tarohan. Jelas banget teriak2 gembira kalo tim yg dipasang tarohan bisa nyetak gol. Dan umpatan sengit kalo gawangnya kebobolan or gak bisa nyetak gol.

Kesimpulan gue gini. Mereka teriak2 semanggat untuk kepentingan tarohan mereka.!!

Kasihan tuh pemain, walo mereka tau sih dimaki2.

Piala Dunia merupakan ajang bisnis besar bagi para bandar2 tarohan bola. Dalam 1 game bisa terjadi transaksi miliar dollar diseluruh dunia. Pelaku tarohan ini mulai dari kenek bis yang pasangnya bisa dari 5000an, sampe mafia narkoba yang mungkin punya pasangan minimal 5 jutaan. Dan gak sedikit ada kalangan high society yang mempertaruhkan mobil, rumah dan bakan depositonya.

Siapa yang untung, siapa yang seneng.. gue gak tau…

Di sisi lain, dengan menutup sebelah mata, pemain dan pelatih juga tau kalo mereka tuh jadi objek bisnis tanpa dapet komisi dari usaha mereka. Selain mungkin jika ada lobi2 tingkat tinggi antara tim dengan sponsor atau dengan bos2 penyandang dana.

Tapi mereka (mungkin) nggak akan konsen ke situ. Tiap tim taunya hanya bagaimana bisa menang. Dan kalo pun kalah, nggak kalah malu2in. Soalnya mereka tau, mereka bisa ada di Piala Dunia karena : emang mereka jago, mereka udah latihan keras, mereka musti melewati banyak gemblengan berat, dan walo pun ada unsur duitnya..itu adalah duit sponsor yang percaya kalo mereka mampu.

Jadi intinya bisa lolos ke Piala Dunia bukan urusan pasport doang, tapi proses yang emang high quality banget. Proses yang kadang butuh tangisan dan pengorbanan lain. Proses yang gak layak dicaci-maki gitu aja sama penonton kalo mereka gagal memenuhi impian para petaroh bola.

Sepak bola adalah satu kesatuan. Mulai dari kesatuan fisik sendiri dan mental sampe kesatuan tim, yg musti saling dukung. Tapi penonton biasanya hanya melihat apakah pertandingan itu menang atau kalah bagi dia… suatu hal yang sangat personal.

Banyak cerita yang udah nunjukin tentang bagaimana proses itu berlangsung. Seperti misalnya luapan kegembiran dengan tangisan bahagia pelatih Costa Rica (kalo gak salah), ketika timnya dipastikan lolos ke babak selanjutnya. Seperti berita di media, itu adalah suatu impiannya untuk bisa mambawa tim nya bertanding lebih jauh di Piala Dunia kali ini.

Juga bagaimana tentang perjuangan tim nasional Togo yang berhasil membuahkan gol ketika melawan tim yang lebih pengalaman dari mereka. Walopun selanjutnya mungkin mereka segera dilupakan karena (mungkin) tidak lolos ke babak selanjutnya.

Dan gue yakin akan banyak cerita2 lain yang mengharu biru di putaran Piala Dunia ini. Cerita2 yang nggak pernah jadi tarohan bola mania. Tapi itu adalah cerita2 di balik layar yang sebenarnya merupakan modal tim itu bisa ada di Piala Dunia dan kemudian “hanya” menjadi objek bisnis orang2 tertentu (yang jumlahnya melebih istilah ‘tertentu’ ini).

Thursday, May 11, 2006

Mimpi dan Khayal

Kadang harapan itu hanyalah tinggal kenangan
yang kembali hanya sekejab dalam mimpi dan khayal.
Tapi cinta harus tetap dipertahankan
agar dalam hidup ini kita bisa tetap bermimpi dan berkhayal.

Kita memang tidak sendiri
walaupun untuk berdua, itu sulit.
Tapi mereka selalu ada di sini
bersama kita untuk tetap bermimpi dan berkhayal.
Karena cinta itu tetap ada.

Tuesday, April 25, 2006

Gundah

Dalam ceria terkadang bisa melupakan kegundahan.
Tapi ketika sepi merasuk, gundah kembali menunjukan jati dirinya.
Entah apa yang harus digundahkan.
Semuanya hanya tinggal dinyatakan untuk mendapat kepastian.
Tak tahu apa yang menghambat.
Apakah hati yang kecut, atau trauma yang dikambinghitamkan?
Atau malah menyalahkan takdir?
-----
Semalam di Roti Bakar Edi

Monday, April 24, 2006

Slow Mo...

Apakah hati ini terlalu kuatir?
atau...
Apakah pikiran ini terlalu lambat?

Terkadang sesuatu terasa menenangkan,
sehingga tak merasa kuatir.
Terkadang susuatu terasa begitu yakin,
sehingga tak perlu cepat.

Tapi nyatanya,
diri ini sering merasa
The man in wrong place & wrong situation
with the wrong person.

Seorang teman pernah berkata
Tidak ada seorang pun yang benar-benar berada dalam
situasi yang ideal.
Tapi keyakinan harus tetap berjalan,
bersama dengan orang yang kita yakini.
Dengan segenap hati dan pikiran,
bukan hanya dengan kenyamanan dan
kenikmatan semata.

Saturday, April 22, 2006

Hari Kartini

Emm... kemaren [21.04] kembali Indonesia ngerayaain Hari Kartini. Tepatnya sih memperingati hari lahirnya Ibu Kita Kartini... Itu namanya emang pake 'Kita' ya.? Keren juga ya.. jaman dulu udah ada nama Kita.. mungkin nama lengkapnya Kitana.. huehehehe...

Pas gue lewat depan sebuah sekolah SD Negri, pas lagi pawai anak2 SD yang pake baju daerah.. Macem2 dan warna-warni. Lucu sih anaknya. Banyak yang jalannya pada kagok. Maklumlah mereka kan pake baju itu setaon sekali.

Tapi lantas gue kepikir. Apa hubungannya Kartini sama baju adat nusantara ya? Perasaan Kartini itu memperjuangkan hak asasi kaum wanita dan pemerataan pendidikan. Bukan memperjuangkan pakaian adat nusantara kan.? Emm.. entahlah gimana bisa begitu perayaannya. Gue males cari silsilahnya. Mungkin ada yang tau.?

Trus yang gue liat sepertinya makin tahun makin ada perubahan. Kalo diliat dari anak2 perempuan, yang gue liat kemaren... Wow man.. make-upnya kaya pake alat yang komplit tuh. Udah gak kalah sama artis yang mo show.!! Dan stylenya juga yang terkini. Gak ada deh yang gue liat medok2. Hampir semuanya trendy... Kayanya ibu2 mereka yang niat make-up-in.

Sementara yang anak2 cowo sih biasa2 aja. Dari dulu cuma ada make-up-an kumis, jambang or jenggot.

Tapi waktu semakin banyak gue lait mereka lewat, gue baru kepikir lagi. Halah...kenapa ya tuh anak2 cowo di make-up peke kumis dan kawan2nya.??

Kenapa ya musti dibentuk sebagai sosok pria dewasa? Emang kalo pake adat gitu musti jadi orang dewasa? Lah anak2 cowo di daerah masing2 juga tetep pake baju adat atau baju daerahnya sejak masih kecil. Tapi kenapa perayaan Kartini mereka musti didandan kaya pria dewasa. Menurut gue tanpa kumis, dkk juga tetep menunjukan budaya nusantara kok.

Dan gue juga males cari silsilahnya... dan biarlah demikian. Mungkin semua itu untuk membuat anak2 itu tetep lucu.

Saturday, April 01, 2006

Secercah Cahaya

Mencoba melangkah lebih jauh,
menembus kelamnya hati.
Beharap temukan secercah cahaya,
cahaya kasih yang dirindukan hati.
-----
semalam...
dibawah redupnya penerangan jalan.

Friday, March 31, 2006

2 Hati

Ada baiknya sesuatu dilaksanakan sesuai calendering yang tepat.
Tapi jika bicara hati... timming berbeda dengan calendering.
Sulit dijadwalkan...
hanya keyakinan dan harapan yang bisa membuat 2 hati ada pada waktu yang sama.

Bandung on Days

Bandung…. Hmm, baru kemaren [24.03.06] gue ke sono pas hari biasa, bukan weekend or hari libur.

Menyenangkan… apalagi kemaren lagi mendung, tambah asik tuh suasananya. Sambil jalan lewat daerah2 sekitar Cihamplas, jalan2nya rame banget… rame sama pohon… huehehehe… Ditambah lagi masih banyaknya rumah2 tua yang masih terawat. Beda banget sama rumah2 tua di Jakarta yang cenderung males untuk ditinggalin. Tapi gue jamin, rumah2 tua di Bandung justru mengundang benget.

Bandung sekarang emang udah makin padet. Jalanan juga udah penuh sama mobil. Tapi kayanya tetep layak untuk dinikmati sama pejalan kaki or pesepeda. Menurut gue, padet tapi gak sumpek. Ada polusi asap kendaraan tapi gak sampe bikin ngebul kaya di Jakarta. Di mall aja masih ada orang yang dateng pake sepeda dan parkir di parkiran motor. Gue gak tau tuh apa kena jam parkir juga.

Emm…Bandung… keinginan yang belon tercapai, untuk pergi sendiri dan ngoprek2 Badung sendirian juga…